infobanjarmasin.com – Hari Raya Nyepi merupakan salah satu perayaan keagamaan penting bagi umat Hindu yang menandai pergantian Tahun Baru Saka.
Pada tahun 2026, umat Hindu merayakan Nyepi 1948 Saka dengan menjalankan berbagai rangkaian ritual yang sarat makna spiritual, refleksi diri, serta keharmonisan dengan alam semesta.
Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan kemeriahan, Nyepi justru dirayakan dalam suasana hening.
Selama satu hari penuh, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api atau cahaya (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), serta tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan).
Melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian, umat Hindu diajak untuk melakukan introspeksi diri, menenangkan pikiran, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan sekitar.
Kesunyian selama Nyepi menjadi momen penting untuk merenungkan perjalanan hidup sekaligus memulai tahun yang baru dengan hati yang lebih bersih.
Sebelum memasuki hari Nyepi, umat Hindu terlebih dahulu melaksanakan sejumlah rangkaian upacara.
Salah satunya adalah Melasti, yakni ritual penyucian diri dan alam yang biasanya dilakukan di sumber air seperti laut atau danau. Ritual ini bertujuan membersihkan segala kotoran lahir dan batin.
Selain itu, terdapat pula tradisi Tawur Kesanga yang digelar sehari sebelum Nyepi. Dalam tradisi ini sering ditampilkan pawai ogoh-ogoh, yakni patung raksasa yang melambangkan sifat buruk atau energi negatif.
Setelah diarak keliling, ogoh-ogoh biasanya dimusnahkan sebagai simbol membersihkan diri dari hal-hal buruk.
Ketika hari Nyepi berlangsung, aktivitas masyarakat di wilayah dengan mayoritas umat Hindu biasanya benar-benar berhenti.
Jalanan menjadi lengang, lampu diminimalkan, bahkan aktivitas penerbangan di beberapa daerah seperti Bali juga dihentikan selama 24 jam. Suasana ini menciptakan ketenangan yang jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Nyepi tidak hanya berkaitan dengan spiritualitas, tetapi juga mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam.
Dengan berhentinya berbagai aktivitas selama satu hari, lingkungan pun mendapat kesempatan untuk “beristirahat” dari hiruk-pikuk kehidupan modern.
Hari Raya Nyepi menjadi pengingat bahwa keheningan memiliki makna mendalam dalam kehidupan.
Melalui refleksi diri, pengendalian hawa nafsu, serta menjaga harmoni dengan alam dan sesama, umat Hindu berharap dapat memasuki tahun yang baru dengan semangat yang lebih baik.




